Keseruan Pesta Rilis Ubuntu 17.10 dan Roadshow LibreOffice Indonesia Mini Conference di LUG STIKOM

Keseruan Pesta Rilis Ubuntu 17.10 dan Roadshow LibreOffice Indonesia Mini Conference di LUG STIKOM

Varian Rasa Ubuntu

Jika kita termasuk orang yang selektif dalam memilih, mungkin distribusi Ubuntu bisa menjadi distro pilihan, karena Ubuntu hadir dengan 7 varian rasa sehingga anda dapat menemukan rasa yang benar-benar mengilustrasikan diri anda. Begitulah kira-kira kata pemateri sambil menggulir slide selanjutnya yang berisi berbagai bentuk logo.

Lalu rasa apa saja yang dimiliki Ubuntu? Yang pasti bukan rasa coklat maupun strawberry yah. Berikut ulasannya:

Ubuntu terkenal dengan pengembangannya yang cepat dan luas, sebagai projek yang terbuka, Ubuntu mempersilahkan komunitas atau organisasi lain untuk turut mengembangkan. Dari situlah berkembang setidaknya 7 macam lingkungan desktop yang berbeda yang di dukung oleh Ubuntu, ketujuh lingkungan desktop tersebut adalah:

Ubuntu GNOME

Salah     satu Ubuntu yang menggunakan GNOME sebagai salah satu lingkungan     desktopnya. Sebelum GNOME berkembang menjadi GNOME 3 atau GNOME Shell, GNOME2 telah menunjukkan taringnya di Ubuntu versi 4.04 namun penggunaanya sebatas sampai Ubuntu 11.04 dan selanjutnya Ubuntu lebih memilih mengembangkan lingkungan desktopnya sendiri, Unity. Namun setelah Ubuntu mengumumkan untuk menghentikan dukungan terhadap Unity dan beralih ke GNOME3 maka varian Ubuntu GNOME ini pun turut berakhir hingga rilis 17.04.

Ubuntu dengan lingkungan desktop Unity.

Merupakan varian Ubuntu yang menggunakan lingkungan desktop karya dari pengembang internal Ubuntu. Desktop ini mulai debutnya di Ubuntu 11.10 dan banyak mendapatkan kritik dari pengguna, akan tetapi lambat laun akhirnya lingkungan desktop ini pun mendapat tempat di hati para pengguna. Namun sayang, menurut kabar Canonical harus menghentikan dukungannya terhadap Unity karena pembiayaan yang kurang memadai sehingga kembalilah Ubuntu menggunakan GNOME3 sebagai lingkungan desktop default-nya.

Lubuntu, Ubuntu dengan lingkungan desktop LXDE

LXDE merupakan lingkungan desktop yang sangat sederhana, sehingga memungkinkan Lubuntu berjalan pada mesin intel pentium dengan RAM minimal 512 MB. Memang Lubuntu ini salah satu varian yang dapat menghidupkan kembali komputer lama dari mati suri akibat permintaan perangkat lunak yang terus berkembang terhadap perangkat keras yang bisa dikatakan sangat agresif.

Xubuntu, Ubuntu dengan lingkungan desktop XFCE

Jika di sandingkan dengan LXDE, XFCE tampil dengan sedikit menawan meskipun konsep yang dibawa mirip     dengan LXDE. Lingkungan desktop ini bisa dibilang mirip dengan tampilan desktop Windows XP atau Windows 7, karena itulah Xubuntu biasanya dipilih oleh sebagian orang yang mulai bermigrasi dari Windows ke GNU/Linux.

Ubuntu MATE, Ubuntu dengan lingkungan desktop MATE

MATE merupakan zombie     dari proyek GNOME2 atau GNOME Classic yang telah tumbuh menjadi GNOME3. Tata letak dan penggunaan lingkungan desktop ini tidak banyak berubah sejak GNOME2, meski begitu konsep pewarnaan dan fitur yang disematkan oleh pengembang lebih kaya dibanding pendahulunya. Dengan alasan itulah Ubuntu akhirnya meresmikan MATE sebagai salah satu varian rasanya.

Ubuntu Studio, varian Ubuntu yang diperuntukkan untuk multimedia

Ubuntu Studio mengadopsi XFCE sebagai lingkungan desktopnya, namun lebih di khususkan penggunaanya pada ranah multimedia. Karena paket multimedia yang tertanam lebih lengkap dari pada Ubuntu varian lain. Pengguna pun dapat memfokuskan diri pada sisi multimedia yang mana dia akan memulai dengan Ubuntu Studio, apakah sebagai editor visual professional, desain grafis, atau desain dalam bidang infrastruktur. Jika jiwa anda adalah seni, Ubuntu Studio menjadi pilihan tepat anda untuk bermigrasi.

Ubuntu Budgie, Ubuntu dengan lingkungan desktop Budgie

Ini adalah rasa baru yang dimiliki Ubuntu, memulai debutnya pada tahun 2015 dan resmi menjadi varian rasa Ubuntu pada tahun 2016. Saya sendiri belum banyak mengeksplorasi rasa Budgie ini pada Ubuntu, namun sesuai kabar yang beredar, rasa ini dapat menggantikan Ubuntu GNOME yang telah di berhentikan dukungannya sejak Ubuntu memboyongnya menjadi lingkungan desktop default.

Tak terasa slide yang digulirkan pemateri memasuki waktu diskusi. Banyak dari pertnyaan dilontarkan oleh audiens, bahkan banyak dari pertanyaan bukan melulu membahas permasalahan teknis, seperti yang disampaikan oleh Pak Samsul, salah satu penggiat GNU/Linux dari Kota Bunga. Beliau memberikan masukan pada para audiens “Memilih distro yang kita banget (cocok untuk kita pakai) itu ibarat memilih seorang suami/istri, karena distro itu akan kalian gunakan dalam keadaan apapun”, kata Pak Samsul diiringi dengan raut muka heran dari audiens. “Saya, memilih Ubuntu Studio untuk saya gunakan sehari-hari, bahkan ketika saya ganti laptop saya mencoba menginstal varian Ubuntu yang lain, hanya saja saya merasa tidak cocok dan akhirnya kembali lagi ke Ubuntu Studio”, tambah beliau.

Jadi kata-kata beliau tersebut kalau dapat saya ambil kesimpulan, dalam memilih distribusi GNU/Linux kita harus memperhitungkan mana distribusi dan variannya yang bisa membuat kita nyaman untuk menggunakan, karena semua itu bukan masalah keegoisan belaka. Saya pun sangat memahami apa yang telah Pak Samsul sampaikan dengan baik, beliau adalah salah satu Tim Insfrastruktur pada proyek BlankOn GNU/Linux dan pengguna Ubuntu Studio, orang se-expert beliau kenapa tidak memilih distro besar seperti Debian yang terkenal lebih stabil atau bahkan distro pentesting sekelas Kali Linux, toh pekerjaan beliau pasti tidak jauh dari masalah keamanan? Anda pun tentu dapat menyimpulkannya, bukan.

Pages: 1 2 3 4 5 6

468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *