KoLU – Workshop Laravel

KoLU – Workshop Laravel

Tentang Workshop Laravel

Seperti yang dikutip dari id-laravel.com, pada tahun 2012 yang lalu, muncul satu fenomena yang cukup berbeda dan menarik perhatian, dimana ada satu framework yang membawa ideologi baru yang selama ini jarang diperhatikan, yaitu aspek “clean code” dan “expressiveness”. Framework ini mengaku “clean and classy”, kodenya lebih singkat, mudah dimengerti, dan ekspressif, jadi hanya dengan

Read More

Field Report Ngabubur-IT “Pentingnya Literasi Digital”

Field Report Ngabubur-IT “Pentingnya Literasi Digital”

backdrop-ngabuburit-2016-update-web

18 Juni 2016, Resto Mahameru, Surabaya.

Menurut internetsehat.id sebagaimana dikutip dari laporan berjudul Measuring the Information Society 2013 yang dirilis International Telecommunication Union (ITU), salah satu agensi pengampu kebijakan global di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dijelaskan bahwa keberadaan generasi muda perlu mendapatkan perhatian khusus dari pengambil kebijakan.

Semisal, perlu adanya kebijakan yang memahami bagaimana mereka belajar, bermain dan bahkan melibatkan diri mereka ke tengah masyarakat. Kebijakan yang disusun pun haruslah mampu merencanakan masa depan mereka, serta belajar dan tumbuh bersamanya. Namun, masih sebagaimana catatan dalam isi laporan tersebut, tidak pula serta-merta kita dapat mengidentifikasi generasi muda digital native hanya dari tahun kelahiran, penggunaanan teknologi informasi dan komunikasi TIK) serta kepemilikan akses (Internet) saja.

Satu lagi pra-syarat seseorang dapat dinyatakan sebagai generasi muda digital native adalah jika mereka juga “belajar tentang literasi digital” (learned digital literacy), baik secara formal maupun informal.

Secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan TIK untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecapakan kognitif maupun teknikal.

Berdasarkan dokumen risalah Best Practice Forum on Online Child Protection, Internet Governance Forum (IGF) 2014, pendidikan literasi digital adalah keniscayaan untuk mendorong pengguna Internet, khususnya yang masih belia usia, agar mampu menggunakan Internet dengan aman, nyaman dan bertanggungjawab.

Ini selaras dengan salah satu tujuan utama pendidikan, yaitu memberikan bekal kemampuan bagi mereka untuk dapat memilah dan memilih hal yang positif, baik online maupun offline.

Risalah tersebut juga mengingatkan perlu adanya kerjasama pemangku kepentingan majemuk (multistakeholder) dalam menjalankan literasi digital tersebut.

Penyampaian literasi digital tersebut tidak harus kemudian berbentuk mata pelajaran tersendiri dan/atau mengubah kurikulum, karena literasi digital dapat pula terintegrasi (baca: disisipkan) ke dalam mata pelajaran dan/atau mendukung bahan ajar (dan proses belajar-mengajar) yang telah ada sebelumnya.

Hal ini selaras dengan Plan of Action, World Summit on the Information Society (WSIS) yang dicanangkan PBB dan didukung Indonesia, khususnya tentang Capacity Building, yang meminta setiap negara untuk: “develop domestic policies to ensure that ICTs are fully integrated in education and training at all levels, including in curriculum development, teacher training, institutional administration and management, and in support of the concept of lifelong learning”.

Internet adalah gudang berbagai informasi. Jika tidak pandai dan bijak dalam memilah kontenyang diakses atau diunduh, maka alih-alih mendapatkan manfaat yang positif, kita bisa terpapar dan terpengaruh oleh berbagai macam berbagai konten negatif seperti pornografi, judi online, rasialisme radikalisme dan atau menjadi korban atas tindakan cyber crime, pelanggaran
privasi, dan lainya. Untuk terhindar dari itu semua, maka diperlukan prinsip untuk menaggulangi bahaya negatif internet yang tertuang pada “3 prinsip ala advokasi Internet Sehat” sebagai berikut:

1. Menumbuhkan konten lokal yang positif, bermanfaat dan menarik bagi anak, remaja dan masyarakat setempat.

2. Self-filtering hanya dapat efektif dilakukan pada tingkat institusi keluarga (rumah) dan pendidikan (sekolah).

3. Dialog dan kerjasama inklusif, sinergis dan setara untuk tata kelola internet antar pemangku kepentingan majemuk.

Sehinga kita bersama dapat mengedepankan kebebasan berekspresi di internet scara aman (safely) dan bijak (wisely).

Info lebih lanjut mengenai acara Ngabubur-IT:

Ngabubur-IT 2016 tentang Pentingnya Literasi Digital


ngabuburIT 2016: Pentingnya Literasi Digital

Materi Literasi Digital

Nobar Film ASADESA “Ketika Desa Semaju Kota”:
http://asadessa.ictwatch.id/

Dokumen cetak berformat .odt dan .pdf (A4) yang ditulis Staff Dokumentasi KoLU selama mengikuti acara Ngabubur-IT:

Lihat Disini

Save

Read More

Introduce KoLU

Introduce KoLU

Komunitas Linux UPN “Veteran” Jawa Timur merupakan kelompok belajar dan diskusi mengenai linux dan turunannya, dan juga teknologi teknologi terkini yang ada disekitar kita agar bisa lebih mudah dipahami dan lebih mudah dimengerti, kesempatan untuk belajar selalu terbuka untuk kalian semua yang ingin mengenal lebih dalam tentang dunia linux dsb.

Read More

Kegiatan KoLU

Kegiatan KoLU

Kegiatan dalam komunitas ini bervariasi dari mulai belajar mengajar, melakukan seminar dan juga pameran-pameran teknologi, komunitas ini juga membuka IT clinic apabila kawan kawan menemui kendala-kendala dalam instalasi linux, troubleshooting linux dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan bersama

Read More

Keluarga KoLU

Keluarga KoLU

Dan pada akhirnya asas kekeluargaanlah yang mempersatukan dan membuat kami semakin besar, tak ada yang lebih sempurna dari rasa saling membutuhkan, saling tolong menolong dan melakukan semuanya secara terbuka dan “open source” bergabunglah bersama kami dan kita sebar luaskan ilmu yang kita dapat agar kehidupan ini semakin baik, semboyan kami “You Can Stop Me But You Can’t Stop Us”!!!

Read More